Berita

Prodi ILMU BEDAH Akreditasi LAMPT-KES 13-14 Februari 2017
Prodi ILMU BEDAH FK UNSRI Akreditasi Lam ...
Selanjutnya...
Basic Surgical Skills Course For General Physicians Palembang 23-9-2017
Basic Surgical Skills Course For G ...
Selanjutnya...
Pengumuman

Penerimaan PPDS Bedah Fk. Unsri Palembang Periode Juli 2016

Kebijakan penerimaan peserta ...
Selanjutnya...

PIN Ke-22 Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia
Pertemuan Ilmiah Nasional ke -22
Pe ...
Selanjutnya...
Link

Kurikulum 2015

SILABUS  DAN  KURIKULUM  NASIONAL

 

PROGRAM  PENDIDIKAN 

DOKTER  SPESIALIS  BEDAH   DI  INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JANUARI  2015

 

 

 

KOLEGIUM  ILMU  BEDAH  INDONESIA

 

Alamat :

Menara Era, Lantai 1-01

Jalan Senen Raya 135 -137

Jakarta 10410, Indonesia

Tilp: 021-34830387,

Situs web: www.kibi.or.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

I.1  SEJARAH PENDIDIKAN BEDAH

 

Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia dimulai sejak tahun 1942 dengan konsep magang (bersifat instructional, institutional based). Sesuai konsep ini, seseorang dinilai layak sebagai seorang ahli bedah setelah mengikuti senior dalam suatu kurun waktu tertentu dan memperoleh brevet.Pendidikan seperti ini berlangsung hingga dibentuk suatu lembaga yang mengatur perihal mengenai pendidikan bedah pada tahun 1967, yaitu Majelis Nasional Penilai Ahli Bedah (MNPAB);bersamaan denganberdirinya organisasi profesi ahli bedah (Ikatan Ahli Bedah Indonesia, disingkat IKABI).Pada tahun 1977, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Departemen Kesehatan, Majelis Ahli, Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Dokter Ahli merumuskan Sistem Pendidikan Tinggi Bidang Kedokteran (scientific curriculum) yang diterapkan pada Katalog Program Studi Ilmu Bedah 1978.Pada perkembangan selanjutnya, MNPAB disebut Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI).Mulai pada tahun 1980, pendidikan dokter spesialis bedah lebih mengarah pada suatu pendidikan formalbernuansa akademik (universitybased) yang diwarnai nuansa akademik yang tidak lama kemudian mengacu ke suatu bentuk pendidikan yang berorientasi pada masalah (problem based learning). Oleh karena itu, KIBI menyusun Katalog Pendidikan Bedah Tahun 1992, kemudian direvisi pada tahun 1997, dan penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis bedah dilakukan oleh universitas melalui fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Oleh karena itu disusunlah silabus dan kurikulum pendidikan dokter spesialis bedah oleh KIBI dan program studi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di berbagai universitas di Indonesia.

 

Pendidikan ilmu bedah mengalami perubahan pesat sejak ditetapkannya Undang-undang no 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Melalui undang-undang ini, Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai lembaga independen di bidang profesi bedah menetapkan standar kompetensi dokter spesialis bedah dan  pendidikan bedah di Indonesia, menyusun kurikulum pendidikan bedah di tingkat nasional, melakukan regulasi berkenaan dengan penerapan kurikulum, melakukan evaluasi, membina dan mendorong pusat–pusat pendidikan untuk maju dan berkembang dalam penyelenggaraan program pendidikan bedah di Indonesia. Dengan demikian KIBI menetapkan sistem pendidikan dokter spesialis bedah berbasis kompetensi (competence based) dengan sistem modul pada tahun 2006.

 

Selain itu terdapat pula perubahan pesat di dalam pendidikan spesialis dari berbagai cabang keilmuan di dalam ilmu bedah, yaitu ilmu bedah ortopedi, urologi, ilmu bedah plastik, ilmu bedah kardiotoraks, serta ilmu bedah anak dan pendidikan subspesialis, yaitu bedah digestif, bedah onkologi, kepala dan leher, serta bedah vaskular. Perkembangan ini telah mendorong peran dokter spesialis bedah umum memiliki kompetensi utama pada bedah emergensi, baik trauma, maupun non trauma dan berbagai kompetensi bedah elektif pada kasus-kasus penyakit bedah yang secara insidensi sangat tinggi dan dapat dilakukan di semua tipe rumah sakit. Hal ini menyebabkan perubahan signifikan di dalam sistem pelayanan bedah oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia yang telah terbagi menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan tingkat I, II, dan III.

 

Demikian pula dengan telah diterapkannnya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional  dan Sistem Rujukan Nasional pada tahun 2014 telah mengubah strategi dan pola pelayanan bedah spesialis dan subspesialis. Dalam hal ini KIBI telah menetapkan bahwa seorang dokter spesialis bedah umum memiliki peran di PPK 2 yaitu di rumah sakit tipe C dan B di Indonesia dengan kompetensi utama yaitu menyelesaikan berbagai penyakit dan kelainan bedah pada PPK2, baik kasus bedah emergensi maupun elektif. Dengan diberlakukannya hal-hal tersebut di atas, KIBI telah melakukan berbagai kursus nasional bagi para peserta didik sehingga pada tahun  2012 dilakukan revisi penyempurnaan kurikulum berbasis kompetensi yang telah ditetapkan pada tahun 2006.

 

Undang-undang No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 49 tahun 2014, PP No 4. Tahun 2014, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, serta Permendikbud No 73 tahun 2013 tentang penyelenggaraan KKNI di Perguruan Tinggi menetapkan bahwa Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri sebagai salah satu Pendidikan Dokter Spesialis 1 (PDSp1) dibawah koordinasi Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI) dan Direktur RS Pendidikan. Koordinator Program Studi (KPS) adalah sebagai penanggung jawab pelaksanaan program tersebut di setiap universitas. KPS bekerjasama dengan Kepala Departemen melakukan koordinasi dengan staf departemen bedah lainnya di dalam menjalankan program pendidikan dan pelatihan dalam pola tertentu. Oleh sebab itu, KIBI melakukan revisi silabus dan kurikulum nasional pada tahun 2015 ini sehingga sesuai dengan berbagai undang-undang dan peraturan yang telah disebutkan di atas.

 

Buku silabus dan kurikulum nasional ini disusun sebagai panduan bagi semua pemangku kepentingan di dalam penyelenggaran pendidikan dokter spesialis bedah (umum) di berbagai program studi di Indonesia sehingga kurikulum di berbagai pusat pendidikan memiliki kurikulum inti yang sama (90%) dengan penambahan kurikulum lokal tidak lebih dari 10 % dari kurikulum nasional dan diselesaikan dalam 8 semester yang secara total minimal mempunyai beban 72 SKS. Oleh karena itu, buku panduan pendidikan dokter spesialis bedah (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis) perlu diterbitkan oleh KPS sebagai penyesuaian  terhadap  situasi dan kondisi dari masing-masing pusat pendidikan.

           

 

I.2  BATASAN

           

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah Indonesia adalah institusi pendidikan dokter Spesialis yang mengemban tugas Kementerian Riset-Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI) untuk menghasilkan dokter spesialis bedah yang profesional berstandar global sehingga mampu memenuhi tuntutan masyarakat dan program pemerintah dalam rangka memberikan pelayanan bedah paripurna yang merata di seluruh wilayah Indonesia dan sejajar dengan dokter spesialis bedah lulusan institusi pendidikan dari luar negeri.

 

 

I.3 NILAI DASAR

  1. Nilai-nilai Pancasila yang meliputi nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan.
  2. Nilai-nilai keilmuan yang meliputi nilai universalitas dan objektivitas ilmu, kebebasan akademik dan mimbar akademik, penghargaan atas kenyataan dan kebenaran guna keadaban, kemanfaatan dan kesejahteraan.
  3. Nilai-nilai kebudayaan yang meliputi nasionalis, toleransi, hak asasi manusia, dan keragaman.
  4. Etika profesionalisme dokter spesialis bedah.
  5. Patient Safety menjadi dasar pelayanan paripurna kepada pasien.
  6. Core Values: Profesionalisme, Kepedulian, Kepuasan Pelanggan, Kewirausahaan, Transparansi, Keadilan.
  7. Core belief: Kejujuran, Kebersamaan, Kemandirian, Optimisme, Keramahan.

 

I.4.  TUJUAN PENDIDIKAN (RANAH KELUARAN)

  1. Ranah Kognitif, yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir untuk menegakkan diagnosis dan memutuskan penatalaksanaan dari kasus-kasus penyakit dalam lingkup keilmuan bedah, baik bedah emergensi maupun non emergensi.
  2. Ranah Psikomotor, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik
  • Penatalaksanaan kegawatdaruratan pasien terancam jiwa pada kasus-kasus lingkup bedah.
  • Penatalaksanaan perioperatif sebelum dan setelah pembedahan.
  • Teknik operasi yang didasari pengetahuan anatomi, fisiologi, indikasi, kontraindikasi, hal-hal yang perlu diperhatikan, langkah-langkah atau tahapan setiap teknik operasi.
  1. Ranah Afektif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perilaku profesional yang meliputi keterampilan berkomunikasi dan berempati dalam interaksi dengan pasien, teman sejawat, staf pengajar, dan semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PELAKSANAAN PENDIDIKAN

( KURIKULUM  NASIONAL)

 

 

II. 1 TAHAPAN PENDIDIKAN

 

Sesuai dengan Undang-undang No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 49 tahun 2014, maka penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis bedah diselenggarakan oleh universitas dengan akreditasi paling sedikit B di fakultas kedokteran terakreditasi A dan rumah sakit pendidikan utama beserta berbagai rumah sakit satelit, afiliasi dan wahana pendidikan lainnya dengan masa studi 8 semester dan beban studi 144 SKS.

 

Sesuai dengan peraturan tersebut di atas maka dasar penghitungan SKS ditetapkan sebagai berikut:

  1. Satu semester : setara dengan 16 minggu kerja
  2. Satu SKS kegiatan tatap muka untuk peserta didik adalah:
    1. 50 menit/minggu :  perkuliahan/ responsi /tutorial
    2. 50 menit /minggu : kegiatan tugas terstruktur dan tidak terjadwal
    3. 60 menit/minggu : kegiatan akademik peserta didik secara mandiri
    4. Satu SKS kegiatan praktikum di laboratorium : 3 jam/minggu di laboratorium
    5. Satu SKS kerja lapangan (bedsite teaching dan operasi) : 4  jam tugas di lapangan atau sejenisnya
    6. Satu SKS penyusunan tesis : 4 jam /hari selama 25 hari kerja.

 

A.  TAHAP BEDAH DASAR (SEMESTER I, II, III)       

 

a. Pra-Bedah Dasar(12 SKS)

 

Durasi

Materi

4 bulan

 

Batasan:

Tahap Pra Bedah Dasar adalah suatu kegiatan pendidikan ilmu dan ketrampilan dasar bedah yang menjadi  kompetensi dasar para peserta didik pemula (yunior) di dalam melaksanakan praktek profesi bedah yang baik di rumah sakit pendidikan.

 

Tujuan pembelajaran:

Setelah mengikuti kursus pra bedah dasar para peserta didik dapat:

  1. Menjelaskan ilmu-ilmu dasar bedah dan ilmu bedah dasar, serta melakukan ketrampilan klinik dasar bedah dengan benar.
  2. Menjelaskanberbagai aspek etik, hukum, dan profesionalisme yang relevan dengan praktik ilmu bedah yang baik.
  3. Menyusun proposal penelitian dalam bidang ilmu bedah

 

 

Topik :

Topik-topik yang dibahas mencakup 8 modul, yaitu :

  1. Ilmu Dasar Bedah:
    1. Introduksi dan sejarah Ilmu Bedah
    2. Anatomi, Fisiologi, Patologi, Mikrobiologi penyakit dan kelainan bedah
    3. Farmakologi
    4. Radioanatomi
    5. Ilmu Bedah Dasar, Anestesiologi dan Radiologi
    6. Ketrampilan Klinik Dasar Bedah
    7. Ilmu Dasar Umum dan Humaniora :
      1. Filsafat Ilmu,
      2. Epidemiologi Klinik,
      3. Metodologi Penelitian Bedah,
      4. Biostatistik
      5. Ilmu Bedah Berbasis Bukti
      6. Etik, Bioetik, Hukum Ilmu Bedah
      7. Profesionalisme Bedah
      8. Keselamatan pasien, dokter dan personel kesehatan
      9. Hubungan inter personal
      10. Komunikasi
      11. Prinsip metode pendidikan bedah

 

Metode Pembelajaran:

Kuliah Mini,Tutorial, Diskusi Kelompok, Praktikum, Pelatihan Ketrampilan, dan Kursus.

 

Kursus-kursus Bedah Dasar (10 hari):

  1. Basic Surgical Skills Courses (Versi The Royal College of Surgeons of Edinburgh)
  2. Kursus Perioperatif
  3. Kursus Nutrisi Perioperatif (LLL- ESPEN)
  4. Kursus stoma dan perawatan luka
  5. Kursus USG FAST

 

 

 

 

 

 

b. Tahap Bedah Dasar ( 42 SKS)

 

Durasi

Materi

14 bulan

 

Batasan:

Tahap bedah dasar adalah pendidikan dan pelatihan ilmu dan ketrampilan prosedur bedah dasar berbagai cabang disiplin ilmu dan profesi bedah di rumah sakit pendidikan utama beserta jejaringnya.

 

Tujuan pembelajaran:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi bedah dasar, peserta didik akan

mampu menerapkan ilmu dan ketrampilan bedah dasar berbagai cabang disiplin profesi bedah pada perawatan pasien bedah.

 

Topik:

Rotasi bedah dasar dilaksanakan pada divisi-divisi cabang ilmu bedah sebagai berikut :

  1. Bedah Digestif (2 bulan)
  2. Bedah Onkologi, Kepala dan Leher (2 bulan)
  3. Orthopaedi (1 bulan)
  4. Urologi (1 bulan)
  5. Bedah Plastik (1 bulan)
  6. Bedah Anak (1 bulan)
  7. Bedah Kardiothoraks (1 bulan)
  8. Bedah Saraf (1 bulan)
  9. Bedah Vaskular (1 bulan)
  10. Bedah emergensi (2 bulan, di IGD)
  11. Perawatan intensif bedah (1 bulan, di ICU)

 

Jadwal rotasi setiap semester ditentukan oleh koordinator program studi dengan memperhatikan fasilitas pendidikan yang tersedia (rumah sakit pusat pendidikan utama dan/atau rumah sakit satelit)

 

Metode pembelajaran:

  1. Tutorial (Referat)
  2. Diskusi dan refleksi kasus
  3. Bedsite Teaching
  4. Telaah kritis jurnal
  5. Seminar
  6.  
  7. Manajemen perioperatif pada pasien
  8. Pelatihan ketrampilan dan prosedur bedah di laboratorium klinik dan di kamar operasi.
  9. Jaga Malam on site di IGD

 

 

Metode Ujian:

  1. Ujian tulis pilihan berganda
  2. Mini CEX
  3. OSCE (Objective Structured Clinical Examination)
  4. DOPS  (Direct Observation of Procedure)
  5. PBA (Procedure Based Assessment)

 

Kegiatan akademik:

  1. Sidang Proposal Penelitian Tesis
  2. Presentasi/publikasi 1 karya ilmiah

 

 

B. TAHAP BEDAH LANJUT  (SEMESTER IV, V, VI, VII, VIII)

           

  1. Tahap Bedah Lanjut I (36 SKS)

 

Durasi

Materi

12 bulan

 

Batasan:

Tahap bedah dasar lanjut I adalah pendidikan ilmu bedah dan pelatihan prosedur bedah lanjut berbagai cabang disiplin ilmu dan profesi bedah di rumah sakit pendidikan utama beserta jejaringnya, sehingga mampu menetapkan manajemen bedah di bawah supervisi konsultan.

 

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi bedah lanjut I, peserta didik akan mampu menetapkan manajemen bedah pada berbagai jenis penyakit atau kelainan bedah di bawah supervisi konsultan.

 

Topik:

Tahap ini akan meliputi modul-modul topik pada divisi:

  1. Bedah Digestif (2 bulan)
  2. Bedah Onkologi, Kepala dan Leher (2 bulan)
  3. Orthopaedi (2 bulan)
  4. Bedah Plastik (1 bulan)
  5. Bedah Saraf (1 bulan)
  6. Urologi (1 bulan)
  7. Kardiothoraks (1 bulan)
  8. Bedah Anak (1 bulan)
  9. Bedah Vaskuler (1 bulan)

 

Metode pembelajaran:

  1. Tutorial (Referat)
  2. Diskusi dan refleksi kasus
  3. 3.      Bed Side Teaching
  4. Telaah kritis jurnal
  5. Seminar
  6. Manajemen perioperatif pada pasien
  7. Pelatihan ketrampilan dan prosedur bedah di laboratorium klinik dan di kamar operasi.
  8. Jaga Malam on site di IGD
  9. Kursus-kursus di Semester IV:
    1. Kursus DSTC (Definitive  Surgical Trauma Care)
    2. Basic Laparoscopic Surgery Course (BSS II)
    3. c.       Gastrointestinal Endoscopy Course

 

Metode Ujian:

  1. Ujian tulis pilihan berganda
  2. PBA (Procedure Based Assessment)
  3. Mini CEX

 

Kegiatan Akademik:

  1. Ujian Nasional I (Bedah Dasar ) di semester IV
  2. Presentasi/publikasi  hasil penelitian di Semester V

 

 

 

b. Tahap Bedah Lanjut II (54 SKS)

 

Durasi

Materi

18 bulan

Batasan:

Tahap bedah dasar lanjut II adalah pendidikan ilmu bedah dan pelatihan prosedur bedah lanjut berbagai cabang disiplin ilmu dan profesi bedah di rumah sakit pendidikan utama beserta jejaringnya, sehingga mampu menetapkan manajemen bedah secara mandiri.

 

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi bedah lanjut II, peserta didik akan mampu menetapkan manajemen bedah pada berbagai jenis penyakit atau kelainan bedah secara mandiri.

 

 

Topik:

Tahap ini akan meliputi modul-modul topik pada divisi:

  1. Bedah Digestif (2 bulan)
  2. Bedah Onkologi, Kepala dan Leher (2 bulan)
  3. Orthopaedi (2 bulan)
  4. Bedah Saraf (1 bulan)
  5. Urologi (1 bulan)
  6. Kardiothoraks (1 bulan)
  7. Bedah Anak (1 bulan)
  8. Bedah Vaskuler (1 bulan)
  9. Bedah Plastik (1 bulan )
  10. Manajemen Bedah Mandiri  di RS Jejaring ( 5 bulan)
  11. Presentasi / publikasi tesis (1 bulan)

 

Metode pembelajaran:

  1. Tutorial (Referat)
  2. Diskusi dan refleksi kasus
  3. Bedsite Teaching
  4. Telaah kritis jurnal
  5. Seminar
  6. Manajemen perioperatif pada pasien
  7. Pelatihan ketrampilan dan prosedur bedah di laboratorium klinik dan di kamar operasi.
  8. Jaga Malam on site di IGD

 

Metode Ujian:

  1. Ujian tulis pilihan berganda
  2. PBA (Procedure Based Assessment)

 

Kegiatan Akademik:

  1. Ujian Nasional II (Bedah Lanjut ) di semester VIII
  2. Presentasi/publikasi  hasil penelitian di Semester VIII

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SILABUS PENDIDIKAN

 

 

III.1  TAHAP PRA BEDAH DASAR

 

 

  1. 1.      MODUL PENDIDIKAN I: Ilmu Dasar Bedah

 

1.1.   Batasan

Ilmu dasar bedah yang mempunyai dasar dan relevan di dalam  ilmu dan prosedur bedah yang meliputi prinsip anatomi, fisiologi, patologi, mikrobiologi, farmakologi, serta radioanatomi.

 

1.2.   Tujuan Umum:

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta PPDS akan mampu menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi terapan pada ilmu bedah, patologi penyakit dan kelainan bedah, mikrobiologi pada infeksi bedah, farmakologi, radioanatomi  yang relevan dengan penyakit bedah, serta menerapkannya pada prinsip-prinsip penatalaksanaan bedah. (K2)

 

1.3.   Materi:

 

1.3.1.       Sejarah dan Perkembangan Ilmu Bedah

1.3.2.       Konsep Dasar Mekanisme Penyakit Bedah

 

1.3.3.       Pengantar Anatomi Bedah

 

1.3.3.1.            Embriologi dan tumbuh kembang

1.3.3.2.            Anatomi permukaan tubuh

1.3.3.3.            Anatomi berbagai sistem organ

1.3.3.4.            Anatomi pencitraan (Imaging Anatomi)

 

1.3.4.       Fisiologi:

 

1.3.4.1.   Fisiologi dasar sel: Integrasi dan Koordinasi

1.3.4.2.   Homeostasis & Mekanisme kontrol

1.3.4.3.   Integrasi fungsi organ

1.3.4.4.   Metabolisme dan Termoregulasi

1.3.4.5.   Perdarahan dan syok hipovolemia

1.3.4.6.   Keseimbangan cairan dan elektrolit,  dan terapi cairan perioperatif

1.3.4.7.   Keseimbangan asam basa

1.3.4.8.   Hemostasis: Perdarahan, Koagulasi, dan Transfusi Darah

1.3.4.9.   Nutrisi perioperatif

 

1.3.5.      Patologi:

 

1.3.5.1.      Cidera sel (Cell Injury).

1.3.5.2.      Nekrosis dan apoptosis

1.3.5.3.      Trauma

1.3.5.4.      Imunologi dasar

1.3.5.5.      Penyakit autoimun

1.3.5.6.      Inflamasi, SIRS, dan MODS

1.3.5.7.      Respon intestinal dan hepar pada trauma

1.3.5.8.      Respon endokrin dan metabolisme pada trauma

1.3.5.9.      Respon imun pada trauma

1.3.5.10.  Penyembuhan luka, Jaringan dan Fibrosis

1.3.5.11.  Infeksi, dan Sepsis

1.3.5.12.  Penyakit Vaskuler

1.3.5.13.  Kelainan pertumbuhan, diferensiasi dan morfogenesis.

1.3.5.14.  Genetika:

1.3.5.14.1.              Klasifikasi otosomal resesif, dominan dan sex linked recessive

1.3.5.14.2.              Klasifikasi sex linked dominan & multigenik

1.3.5.14.3.              Genetik molekuler

1.3.5.14.4.              Farmakogenetik

 

1.3.5.15.  Genetika molekuler pada Neoplasma: genom DNA, Siklus Sel, Apoptosis, Telomer.

1.3.5.16.  Patogenesis dan Biologi Neoplasma: defek gen, aktivasi proto-onkogen, inaktivasi gen supresor, inisiasi, promosi, progresi, metastasis, dan sindroma paraneoplastik.

1.3.5.17.  Klasifikasi Neoplasma

1.3.5.18.  Gradasi histopatologi dan stadium pada kanker

1.3.5.19.  Respon imun pada kanker

1.3.5.20.  Prinsip pemeriksaan histopatologi, potong beku, dan immunohistokimia.

 

 

 

1.3.6.      Mikrobiologi:

 

1.3.6.1.      Diversifikasi mikroorganisme pada infeksi bedah (akut dan kronik)

1.3.6.2.      Patogenesis infeksi bakterial, infeksi lokal dan sepsis

1.3.6.3.      Infeksi pada jaringan lunak: selulitis, abses, fasciitis nekrotikans, gas gangren.

1.3.6.4.      Infeksi nosokomial dan Surgical Site Infection

1.3.6.5.      Respon imun pada infeksi bedah

1.3.6.6.      Genetika dan Biologi molekuler mikroorganisme

1.3.6.7.      Antimikroba

1.3.6.8.      Kontrol terhadap mikroorganisme dan mekanisme resistensi antibiotika pada mikroorganisme

1.3.6.9.      Prinsip-prinsip pencegahan infeksi: disinfeksi, sterilisasi, tindakan a dan anti septik.

 

 

 

1.4.   Farmakologi:

 

1.4.1.1.      Farmakologi pada kasus bedah trauma: analgetik, antibiotika, obat kardiovaskular, dan obat anesthesia.

1.4.1.2.      Farmakologi pada kasus bedah sepsis

1.4.1.3.      Terapi rasional antibiotik pada infeksi bedah: terapeutik empirik dan profilaksis

1.4.1.4.      Farmakologi antibiotika pada pasien-pasien kritis

1.4.1.5.      Farmakologi obat-obat inotropik dan vasoaktif pada pasien kritis

1.4.1.6.      Farmakologi kemoterapi

1.4.1.7.      Farmakologi obat anti epilepsi, anti koagulan, dan penyakit endokrin.

 

1.4.2.      Radioanatomi:

1.4.2.1.            Radioanatomi organ pada foto sinar X dengan dan tanpa zat kontras

1.4.2.2.            Radioanatomi organ pada pemeriksaan ultrasonografi

1.4.2.3.            Radioanatomi organ pada pemeriksaan CT Scan

1.4.2.4.            Radioanatomi organ pada pemeriksaan MRI

 

 

 

 

  1. 2.      MODUL PENDIDIKAN II: Ilmu Bedah Dasar

 

2.1.   Batasan

Ilmu bedah dasar adalah meliputi ilmu dan ketrampilan dasar klinik yang diperlukan di dalam melakukan penatalaksanaan pasien bedah, baik tahap perioperatif maupun intra operatif.

 

2.2.   Tujuan Umum

Setelah mengikuti modul ini, peserta didik akan akan mampu:

  • Menjelaskan teori klinik umum yang berhubungan dengan penatalaksanaan pasien bedah. (K2)
  • Melakukan berbagai ketrampilan klinik dasar bedah di dalam perawatab pasien bedah. (P4)

 

2.3.   Materi

2.3.1.1.       Patologi dan masalah klinik berbagai penyakit dan kelainan bedah pada bedah digestif, onkologi, orthopaedi, urologi, bedah saraf, bedah anak, bedah plastik, bedah kardiothoraks, bedah vaskular, dan bedah kepala leher.

2.3.1.2.            Prinsip pengelolaan trauma dan kondisi kritis:

2.3.1.2.1.             Tata kerja dan tindakan pencegahan dalam Ruang Perawatan Intensif

2.3.1.2.2.             Trauma massal

2.3.1.2.3.             Sistem skor pada trauma

2.3.1.2.4.             Dukungan metabolik dan nutrisi pada penderita trauma

2.3.1.2.5.             Systemic Inflammatory Response Syndrome

2.3.1.2.6.             Gagal organ multipel pasca trauma

2.3.1.2.7.             Patofisiologi dan pencegahan ARDS pada penderita trauma

2.3.1.2.8.             Pencegahan dan penanganan infeksi pasca trauma

2.3.1.2.9.             Perawatan pra dan pasca bedah

2.3.1.2.10.         Pemantauan dan pengelolaan syok perdarahan dan koagulopati

2.3.1.2.11.         Terapi nutrisi perioperatif

2.3.1.2.12.         Indikasi dan pemantauan pemasangan ventilator

2.3.1.2.13.         Dasar-dasar anestesi pada kasus bedah elektif dan darurat

 

2.3.1.3.           Skrining dan Registrasi kanker

2.3.1.4.           Prinsip terapi kanker: pembedahan, radioterapi, kemoterapi, immunoterapi, dan terapi hormonal.

2.3.1.5.            Dasar-dasar ketrampilan bedah

2.3.1.6.            Luka gigitan binatang, tetanus, gas gangren

2.3.1.7.            Kamar bedah dan tatacara kerja kamar bedah

2.3.1.8.            Infeksi bedah

2.3.1.9.            Infeksi nosokomial

2.3.1.10.        Asepsis dan antisepsis

2.3.1.11.        Maksud dan tujuan, cara pengambilan dan pemeriksaan PA/FNAB

2.3.1.12.        Transplantasi organ

 

2.3.2.    Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan foto polos, dan foto polos dengan kontras

2.3.3.    Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan CT Scan

2.3.4.    Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan MRI

2.3.5.    Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan USG abdomen

2.3.6.    Dasar-dasar dan jenis radioterapi, tehnik, dan evaluasi hasil radiasi, proteksi radiasi

 

 

  1. 3.      MODUL PENDIDIKAN III: Ketrampilan Klinik Dasar Bedah

 

3.1.   Batasan

Ketrampilan klinik dasar bedah adalah ketrampilan pemeriksaan klinik yang meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnostik, serta prosedur bedah dasar yang menjadi kompetensi esensial bagi setiap dokter spesialis bedah.

 

3.2.   Tujuan Umum:

Setelah menyelesaikan modul ini para peserta didikan akan mampu melakukan  ketrampilan klinik dan prosedur bedah dasar sesuai dengan standar terbaik.

 

 

3.3.   Materi

3.3.1.      Bantuan hidup dasar pada trauma

3.3.2.      Ventilasi Mekanik

3.3.3.      Persetujuan pasien berdasarkan informasi (Informed Consent)

3.3.4.      Pemeriksaan klinik (anamnesis dan fisik diagnostik):

3.3.4.1.            Bedah Digestif:

3.3.4.1.1.                  Abdomen akut

3.3.4.1.2.                  Ikterus obstruktiva

3.3.4.1.3.                  Perdarahan saluran cerna atas dan bawah

3.3.4.1.4.                  Massa intraabdomen

3.3.4.1.5.                  Obstruksi intestinal

3.3.4.1.6.                  Benjolan di lipat paha

3.3.4.2.            Bedah Onkologi, Kepala dan Leher:

3.3.4.2.1.                  Benjolan di payu dara

3.3.4.2.2.                  Benjolan di leher

3.3.4.2.3.                  Tukak atau lesi di kulit

3.3.4.2.4.                  Benjolan di jaringan lunak

3.3.4.2.5.                  Trauma maksilofasial dan leher

3.3.4.3.            Orthopaedi:

3.3.4.3.1.                  Fraktur tulang dan disklokasi

3.3.4.3.2.                  Sindroma kompartemen akut

3.3.4.3.3.                  Tumor tulang

3.3.4.4.            Urologi:

3.3.4.4.1.                  Lower Urinary Tract Symptoms

3.3.4.4.2.                  Obstruksi saluran kemih atas

3.3.4.4.3.                  Hematuria dan inkontinensia urin

3.3.4.5.            Kardiothoraks:

3.3.4.5.1.                 Trauma thoraks: pneumothoraks, hematothoraks, dan tamponade jantung

3.3.4.6.            Bedah Vaskular:

3.3.4.6.1.                  Oklusi arteri perifer

3.3.4.6.2.                  Varises tungkai

3.3.4.7.            Bedah Anak

3.3.4.7.1.                  Obstruksi usus pada neonatus dan anak

3.3.4.7.2.                  Malformasi anorektal

3.3.4.7.3.                  Hernia dan benjolan pada skrotum

3.3.4.8.            Bedah Plastik:

3.3.4.8.1.                  Sumbing bibir dan langitan

3.3.4.8.2.                  Luka Bakar

3.3.4.8.3.                  Kontraktur

3.3.4.9.            Bedah Saraf:

3.3.4.9.1.                  Trauma Kepala

3.3.4.9.2.                  Glasgow Coma Scale

3.3.5.      Prosedur bedah:

3.3.5.1.  Ketrampilan bedah dasar (Basic Surgical Skills)

3.3.5.2.  Trakeostomi

3.3.5.3.  Insersi chest tube

3.3.5.4.  Pemasangan jalur intravena: konvensional maupun melalui prosedur pembedahan

3.3.5.5.  Pemasangan jalur vena sentral

3.3.5.6.  Pembalutan

3.3.5.7.  Pembidaian

3.3.5.8.  Traksi kulit dan tulang 

 

 

 

  1. 4.      MODUL PENDIDIKAN IV: Ilmu dasar umum dan humaniora

 

4.1.   Batasan

Ilmu dasar umum adalah ilmu-ilmu dasar yang menjadi komponen area kompetensi dokter spesialis bedah sehingga dapat menjalankan profesinya dengan praktek bedah terbaik dan  mampu mengembangkan ilmu bedah melalui penelitian ilmu bedah. Ilmu-ilmu dasar umum tersebut meliputi Filsafat Ilmu, Epidemiologi Klinik, Metodologi Penelitian Bedah,

Biostatistik, Ilmu Bedah Berbasis Bukti serta humaniora yang meliputi Etik, Bioetik, Hukum Ilmu Bedah, Profesionalisme Bedah, Keselamatan pasien, dokter dan personel kesehatan, Hubungan inter personal, dan Komunikasi.

 

 

4.2.   Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan modul ini, para peserta didik akan mampu:

  • menjelaskan konsep filsafat ilmu, metodologi penelitian kedokteran, biostatistika, etika penelitian, bioetik, serta menerapkannya di dalam bentuk penelitian mandiri
  • menganalisis hasil-hasil penelitian kedokteran dengan menerapkan praktek bedah berbasis bukti.
  • menjelaskan berbagai aspek etik, bioetik, hukum kesehatan yang terkait dengan berbagai masalah perioperatif.
  • menjelaskan profesionalisme bedah.
  • menerapkan dasar-dasar hubungan antar personal dan komunikasi profesi dalam praktek bedah yang baik.
  • Menjelaskan prinsip-prinsip dasar keselamatan pasien, dokter, dan perseonal kesehatan.

 

 

4.3.   Materi

 

4.3.1.      Filsafat ilmu dan epidemiologi klinik:

4.3.1.1.            Pengantar filsafat ilmu dan epidemiologi klinik

4.3.1.2.            Dasar-dasar epidemiologi klinik

4.3.1.3.            Metode ilmiah

4.3.1.4.            Metode penalaran

 

4.3.2.      Metodologi penelitian bedah

 

4.3.2.1.            Pengantar metodologi penelitian (pengertian, fungsi, tujuan)

4.3.2.2.            Sain dan penelitian ilmiah

4.3.2.3.            Deduksi-induksi

4.3.2.4.            Jenis-jenis penelitian ilmiah (penelitian epidemiologi)

4.3.2.5.            Penelitian eksperimental

4.3.2.6.         Proses penelitian (identifikasi, perumusan masalah, tujuan, kerangka konsep, perpustakaan)

4.3.2.7.            Sampling

4.3.2.8.            Pengumpulan data (instrumen pengukuran, wawancara)

4.3.2.9.            Uji coba instrumen, validitas, rehabilitas instrumen

4.3.2.10.        Pengolahan dan analisis data

4.3.2.11.        Etika Penelitian

4.3.2.12.        Formulasi usulan penelitian

4.3.2.13.        Rancangan laporan penelitian

4.3.2.14.        Seminar proposal penelitian

 

4.3.3.      Biostatistik:

4.3.3.1.            Pengantar statistik

4.3.3.2.            Data (pengumpulan dan pengolahan)

4.3.3.3.            Statistik deskripsi

4.3.3.4.            Teori probabilitas

4.3.3.5.            Sampling dan distribusi

4.3.3.6.            Statistika inferensial teori estimasi

4.3.3.7.            Pengujian hipotesis, pemilihan uji statistik

4.3.3.8.            Statistik parametrik (uji-t)

4.3.3.9.            Analisis data nominal (uji X-2, uji eksak Fisher)

 

4.3.4.      Ilmu bedah berbasis bukti dan telaah kritis penelitian bedah

4.3.4.1.            Prinsip-prinsip ilmu bedah berbasis bukti

4.3.4.2.            Telaah kritis: Penelitian Penyebab dan risiko

4.3.4.3.            Telaah kritis: Penelitian klinik diagnosis

4.3.4.4.            Telaah kritis: Penelitian klinik terapi

4.3.4.5.            Telaah kritis: Penelitian Klinik prognosis

 

4.3.5.      Humaniora:

4.3.5.1.            Etika profesi

4.3.5.2.            Hubungan interpersonal dokter-klien

4.3.5.3.            Hukum kedokteran

4.3.5.4.            Aplikasi hukum kedokteran dalam praktek

4.3.5.5.            Etik keperawatan

4.3.5.6.            Etik rumah sakit

4.3.5.7.            Etika pada mati batang otak

4.3.5.8.            Dasar-dasar bioetik

4.3.5.9.            End of Life Care

4.3.5.10.        Komunikasi interpersonal

4.3.5.11.        Profesionalisme dan praktek bedah yang baik

4.3.5.12.        Keselamatan pasien

4.3.5.13.        Keselamatan dokter dan personel kesehatan

 

 

 

  1. 5.      MODUL PENDIDIKAN V: Metode Pendidikan Bedah (Belajar dan Mengajar)

5.1.   Batasan

Metode pendidikan bedah adalah ilmu dan ketrampilan di dalam proses belajar dan mengajar ilmu bedah di berbagai sarana dan prasarana pendidikan.

 

5.2.   Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan modul ini, para peserta didik akan mampu menerapkan berbagai metode belajar dan mengajar di dalam pendidikan ilmu bedah.

 

5.3.   Materi

5.3.1.      Pengantar metode belajar mengajar

5.3.2.      Cara menyajikan kasus

5.3.3.      Cara membuat transparansi

5.3.4.      Metode tutorial, diskusi kelompok dan bed side teaching

5.3.5.      Metode pelatihan ketrampilan klinik dan prosedur bedah

5.3.6.      Praktek role play

 

 

  1. 6.      Metoda Pembelajaran Tahap Pra Bedah Dasar:

Metoda penyelenggaraan kegiatan ini adalah berbasis pada metoda pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), yaitu meliputi:

 

6.1.1. Diskusi: Kegiatan diskusi dilakukan dalam beberapa cara, yaitu sebagai berikut:

 

6.1.1.1.Diskusi kasus :

 

adalah pembahasan suatu masalah kasus yang berkaitan dengan tema suatu topik modul sehingga menjadi “Trigger Case” (kasus pemicu) yang dapat menjadi titik awal untuk mengidentifikasi berbagai subtopik pembelajaran yang diperlukan sehingga dapat memperjelas aspek patogenesis, patofisiologi, dan dasar pemikiran pilihan pengelolaan bedah pada kasus-kasus yang berhubungan dengan topik tersebut. Seorang tutor akan menjadi moderator diskusi yang akan melibatkan kelas dan memberikan panduan menuju pembahasan berbagai aspek yang menjadi tujuan pembelajaran pada topik modul yang bersangkutan. Jumlah peserta didik diusahakan tidak melebihi 40 orang pada suatu sesi diskusi. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini adalah 55 menit.

 

 

 

6.1.2.      Tutorial:

 

Penyajian suatu subtopik dari suatu modul oleh peserta didik di bawah panduan oleh seorang fasilitator/tutor, yang terdiri dari maksimum 30 menit presentasi dan 25 menit diskusi.

 

6.1.3.      Praktikum:

 

Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman belajar pada suatu subtopik sehingga tercapai peningkatan pemahaman. Kegiatan praktikum dilakukan untuk berbagai subtopik patologi melalui demonstrasi berbagai gambaran patologi makroskopik maupun mikroskopik.

 

6.1.4.      Kuliah Mini:

Dilaksanakan selama 55 menit, yang terdiri dari kuliah didaktik (maksimum 40 menit) oleh nara sumber dan dilanjutkan dengan diskusi kelas selama 15 menit.

 

 

6.1.5.      Pelatihan Ketrampilan Klinik:

Dilaksanakan di laboratorium ketrampilan klinik (bila tersedia) dan melalui metode pembelajaran “ Competency Based Training” (Pelatihan berbasis kompetensi) yang meliputi partisipasi aktif peserta, fokus pada ketrampilan klinik spesifik secara komprehensif (kognisi, psikomotor, dan sikap), terdapatnya peran fasilitator, dan penilaian performa peserta didik secara langsung. Untuk mencapai hal tersebut maka tahapan proses pelatihannya adalah sebagai berikut:

 

Tahap 1: Standarisasi

 

Setiap prosedur ketrampilan klinik dibagi menjadi beberapa tahapan utama, dan kemudian tahapan tersebut dibagi lagi menjadi langkah-langkah yang paling efisien dan aman berdasarkan bukti ilmiah yang terbaik, sehingga pada akhirnya akan menjadi suatu panduan belajar beserta daftar tiliknya.

 

Tahap 2: Pelaksanaan pelatihan.

 

Pelatihan dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Presentasi oleh instruktur klinik untuk akuisi prosedur.
  2. Demonstrasi oleh instruktur klinik dihadapan para peserta.
  3. “Coaching”: Peserta melakukan prosedur di bawah supervisi instruktur.
  4. Latihan mandiri.
  5. Evaluasi.

 

6.1.6.      Kursus:

 

Adalah kegiatan pelatihan pada satu topik masalah bedah atau ketrampilan bedah yang didesain oleh KIBI untuk memberikan standar penyelesaian masalah bedah dan/atau metode standar teknik ketrampilan bedah kepada para peserta didik yang dilaksanakan dalam 1-3 hari. Para peserta didik mendapatkan sertifikat kompetensi dalam setiap kursus baik yang berstandar nasional maupun internasional. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara langsung oleh KIBI atau Prodi dengan sertifikasi oleh KIBI. Kursus-kursus yang diselenggarakan adalah sebagai berikut:

6.1.6.1.      Basic Surgical Skills Courses (Versi The Royal College of Surgeons of Edinburgh)

6.1.6.2.      Kursus Perioperatif Bedah Emergensi

6.1.6.3.      Kursus Nutrisi Perioperatif (LLL- ESPEN)

6.1.6.4.      Kursus stoma dan perawatan luka

6.1.6.5.      Kursus USG FAST

 

 

 

 

 

  1. 7.      Format dan jadwal kegiatan setiap minggu:

Jam

Senin

ID/BD

Selasa

ID/BD, KK

Rabu

ID/BD

Kamis

ID/BD, KK

Jum’at

MKDU

9.00-10.00

Kuliah Mini/

Presentasi

Kuliah Mini/

presentasi

Kuliah Mini/

presentasi

Kuliah Mini/

presentasi

Kuliah Mini

(08.00-09.00)

10.00-11.00

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Kuliah Mini

(09.00-10.00)

11.00-12.00

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Presentasi/

Diskusi

Kuliah Mini

(10.00-11.00)

12.00-13.00

ISTIRAHAT, MAKAN SIANG, SHOLAT

13.00-14.00

Pendalaman  materi ilmu dasar

Ketrampilan klinik/

Praktikum

Pendalaman  materi ilmu dasar

Ketrampilan

Klinik/

Praktikum

Seminar

14.00-15.00

Diskusi kelompok

Diskusi kelompok

Seminar

                   

 

Keterangan:

ID = Ilmu Dasar Bedah

IB = IB Ilmu Bedah Dasar

KK = Ketrampilan Klinik

MKDU = Ilmu Kuliah Dasar Umum dan Metode Belajar mengajar

 

  1. 8.      Kriteria Staf pengajar

 

  1. Nara sumber  : adalah staf pengampu bidang ilmu tertentu yang terdapat sebagai topik atau subtopik pada suatu modul belajar dan bertugas menyusun modul dan membuat “ BLUE PRINT” dan soal-soal ujian kursus.
  2. Tutor atau fasilitator: adalah staf yang bertugas untuk memberikan fasilitasi pada kegiatan presentasi atau diskusi kelompok.
  3. Instruktur klinik atau praktikum: adalah staf yang memberikan pelatihan ketrampilan klinik atau praktikum patologi

 

 

III.2  TAHAP BEDAH DASAR

 

Kompetensi yang harus dicapai pada tahap ini adalah kompetensi pada ranah kognitif pada berbagai masalah dan penyakit bedah dan prosedur bedah esensial bagi dokter spesialis bedah umum pada berbagai cabang ilmu bedah.

 

Ranah kompetensi kognitif :

 

  1. Bedah Digestif

 

  1. Pemberian makan dini pada penderita pasca bedah (Early Recovery After Surgery)
  2. Patofisiologi nyeri pada kelainan biliodigestif
  3. Fungsikeseimbangan flora normal pada traktus gastrointestinal
  4. Kolestasis
  5. Mekanisme pertahanan mukosa
  6. Respon hepar dan traktus gastrointestinal pada trauma
  7. Faktor penyebab dan patogenesis dari karsinoma usus besar
  8. Hematochesia
  9. Sepsis enterobakterial
  10. Infeksi intraabdominal
  11. Obstruksi intestinal
  12. Surgical approach bedah digestif

 

  1. Kepala dan Leher

 

  1. Fisiologi hormon (tiroid dan paratiroid)
  2. Paratiroidisme
  3. Hipertiroidisme
  4. Jaringan limfe kepala dan leher
  5. Obstruksi jalan nafas bagian atas
  6. Faktor penyebab dan patogenesis kanker rongga mulut
  7. Kanker kepala dan leher
  8. Maloklusi dan koreksi
  9. Surgical approach bedah head & neck
  10. Onkologi Bedah

 

  1. Karsinogenesis
  2. Skrining kanker
  3. Pencegahan kanker
  4. Deteksi dini kanker
  5. Penentuan stadium kanker
  6. Prinsip Onkologi Bedah
  7. Pemilihan modalitas terapi untuk penderita kanker
  8. Dukungan nutrisi untuk penderita kanker
  9. Terapi paliatif dan penanganan nyeri kanker
  10. Surgical approach bedah payudara

 

  1. Bedah Anak

 

  1. Respon endokrin dan metabolik pada pembedahan anak
  2. Penanganan cairan dan elektrolit pada pembedahan anak
  3. Infeksi bayi dan neonatus
  4. Dukungan nutrisi pada pembedahan anak
  5. Pencegahan hipotermi pada pembedahan anak
  6. Diagnostik prenatal dan pembedahan intra uterin
  7. Konsiderasi hematologik pada pembedahan anak
  8. Konsiderasi pernafasan pada penderita perioperatif anak
  9. Konsiderasi kardiovaskuler pada penderita perioperatif anak
  10. Kelainan kongenital traktus urinarius)*  [pelaksanaan diserahkan program studi)

 

  1. Bedah Thoraks Kardiothoraks
    1. EKG
    2. Monitoring hemodinamik
    3. Ventilasi mekanik dan terapi oksigen
    4. Transfusi intrabedah dan pasca bedah
    5. Surgical approach bedah thoraks

 

  1. Bedah Vaskular
    1. Oklusi pembuluh darah
    2. Kelainan pembuluh vena

 

  1. Bedah Plastik
    1. Penanganan luka abrasi, terbuka, laserasi
    2. Trauma wajah
    3. Patofisiologi luka bakar
    4. Resusitasi dan terapi awal pada luka bakar
    5. Patofisiologi dan pencegahan jaringan parut
    6. Smoke inhalation
    7. Prinsip dasar dan macam tandur kulit
    8. Prinsip dasar dan macam Z-plasty
    9. Prinsip dasar dan macam rotation flap
    10. Prinsip dasar dan macam pedicle flap
    11. Prinsip dasar dan macam free flap
    12. Prinsip dasar dan macam graft
    13. Prinsip penanganan dan perawatan celah bibir dan celah langit

 

  1. Bedah Saraf

 

  1. Patofisiologi dan penanganan peningkatan tekanan intrakranial
  2. Perubahan patofisiologi pada lesi saraf perifer
  3. Penyembuhan jaringan pada lesi saraf perifer
  4. Prinsip dasar reparasi saraf perifer
  5. Patofisiologi dan penanganan trauma kepala
  6. Pemeriksaan neurologis dan monitoring neurologis di ICU
  7. Skoring gangguan kesadaran serta implikasinya
  8. Patofisiologi dan diagnosis hematoma epidural
  9. Prinsip dasar penanganan fraktur depresi
  10. Patofisiologi dan diagnosis hidrosefalus
  11. Pengenalan kelainan kongenital bedah saraf
  12. Mati batang otak
  13. Surgical approach bedah  saraf
  14. Urologi
    1. Urodinamik
    2. Persiapan pemeriksaan, pembacaan IVP,sistografi dan uretrografi
    3. Infeksi traktus urinarius
    4. Obstruksi traktus urinarius bagian atas dan bagian bawah
    5. Batu urinarius, patofisiologi dan pencegahan
    6. Patofisiologi gagal ginjal akut
    7. Keganasan pada traktus urinarius
    8. Kelainan kongenital traktus urinarius)*  [pelaksanaan diserahkan program studi)
    9. Inkontinensia
    10. Acute scrotum
    11. Dasar diagnosis dan penanganan varikokel dan hidrokel
    12. Kateterisasi, perawatan dan komplikasi
    13. Surgical approach bedah urologi
    14. Orthopaedi

 

  1. Respon jaringan muskuloskeletal terhadap penyakit dan trauma
  2. Biomekanik fraktur
  3. Penyembuhan tulang
  4. Prinsip umum penanganan fraktur
  5. Komplikasi fraktur dan penanganannya
  6. Cedera jaringan lunak (otot, tendon dan ligamentum)
  7. Penyembuhan jaringan lunak (otot, tendon dan ligamentum)
  8. Rehabilitasi pada trauma musculoskeletal
  9. Osteomielitis akut dan kronis
  10. Tumor muskuloskeletal
  11. Pengenalan kelainan kongenital orthopaedi
  12. pengenalan penyakit degeneratif orthopaedi
  13. Surgical approach ekstremitas superior
  14. Surgical approach ekstremitas inferior

 

Ranah Kompetensi Psikomotor dan Afektif

 

  1. a.                  Bedah Digestif:

 

  1. Manajemen hernia
  2. Manajemen Appendisitis
  3. Manajemen obstruksi usus
  4. Manajemen perioper